Alhamdulillah, legaaa rasanya setelah melewati hari-hari yang penuh ketegangan minggu yang lalu.
Apakah itu? Ya…Ujian Akhir Semester anak-anak.
Meski yang ujian mereka, tak urung saya sebagai ibunya ikut tegang dan gupuh mempersiapkan ujian: mulai mengatur jadwal bermain, jadwal tidur, jadwal belajar. Seminggu yang full disiplin dan suntuk karena porsi waktu belajar agak lebih banyak. Sedikit-sedikit saya harus mengingatkan Mas Ganteng untuk menggunakan waktu belajar sebaik-baiknya, karena-namanya saja anak kelas 1-inginnya main saja. Apalagi jarak dari rumah ke sekolah yang agak jauh menyebabkan waktu bermain dan belajar Mas Ganteng lebih sedikit daripada teman-temannya yang jarak dari rumah ke sekolahnya dekat. Orang bilang waktunya habis di jalan, sampai rumah tinggal capeknya.
Sekarang tinggal menunggu hasilnya saja, semoga tidak mengecewakan. Amiin. Yang terpenting sebenarnya adalah –dengan ujian- anak-anak berlatih untuk melakukan persiapan sungguh-sungguh, disiplin, jujur dan tawakal dalam mencapai tujuan. Anak-anak juga belajar mencintai ilmu, mencintai aktivitas belajar, mencintai aktivitas membaca. Namun ketika anak kita mendapat ‘bonus’ nilai baik dalam ujian, orang tua mana yang tidak menyukainya?^^ (Jadi menyesal nih, kenapa ya dulu saya kurang maksimal belajar padahal kesempatan terbuka banyak…*menyesal kemudian tak berguna*)
Alhamdulillah, di sela-sela kesibukan mengurusi dunia yang seringkali melenakan dan menyita waktu sehingga sering pula lalai untuk berbenah diri, Syaikh Mamduh berkenan mengingatkan saya dengan sepotong kisah yang sangat berharga :
Kisah ini tentang seorang tabi’in bernama ar Rabi’ bin Khaitsam. Pernah dia tidur, lalu terbangun di akhir malam. Tiba-tiba ibunya melihatnya susah karena menahan tangis dan juga karena begadang. Maka sang ibu itupun berkata kepadanya,”Ada apa gerangan denganmu wahai anakku, apakah engkau telah membunuh satu jiwa? Ataukah engkau telah melakukan satu kejahatan?”
Maka dia menjawab,” Ya wahai Ibu, aku telah membunuh satu jiwa.”
Sang ibupun menjawab daam kesedihan dan penuh kasih,” Siapakah korban pembunuhan tersebut, agar kita bisa meminta beas kasihan keuarganya? Demi Allah seandainya mereka melihat tangisan dan begadangmu, pastilah mereka akan mengasihimu.”
Dia pun menjawab,” Wahai ibu, jangan beritahu siapapun, aku hanyalah membunuh diriku sendiri, aku membunuhnya dengan dosa-dosa.”
Allahu Akbar, jika demikian keadaan seorang tabi’in-yang dia hidup setelah jaman Nabi Shallalaahu ‘aaihi wassallam secara langsung- bagaimanakah dengan kita yang hidup di jaman ini? Sungguh, dosa-dosa yang dengannya kita bermaksiat kepada Dzat yang Maha Mengetahui perkara ghaib telah menawan kita….
Ya Allah rahmatillah kami, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyayangi kami, dan janganlah Engkau adzab kami, Engkaulah Dzat Yang Maha Kuasa atas kami. Amiin.
Duhai, andai aku seperti lelaki itu…………………..
(Sumber: Qiblati, edisi 09, tahun V, Juni 2010)
pic:pujaanse7en.blgspt.com




saatnya liburan sebagai reward dari ketatnya jadwal di masa lalu… *__*
sipp Teh!
menangis yang seperti inilahyang terasa melegakan jeng, indah damai terasa di jiwa
andai aku seperti lelaki itu………………
selamat liburan ya..
semoga liburannya mas ganteng menyenangkan
Amiin. Makasih Ummu
Semangat ya Mbak untuk terus membuat Mas Ganteng cinta “belajar”
wah,,subhanallah cerita yang bagus..
aminn..semoga kita bisa seperti itu
Maaf sudah lama tidak berkunjung,,kemaren2 sibuk dgn aktivitas dunia nyata
http://greenyazzahra.wordpress.com/2010/06/18/alasan-kepergianku-dari-rumah-maya/
Tdk papa kok Dik….^^
wah lg pad amusim liburan yah . .
btw wah udah lama bgt aq gak ketemu sama mjalah Qiblati nh . .
Sekarang saya pertemukan^^
Cerita yang penuh makna. Bisa nggak ya saya seperti ar Rabi’ bin Khaitsam
Insya Allah bisa..
berapa banyak dosa yang kita perbuat sehinga kita telah menjadi mayat hidup
sungguh tak terhitung….
liburan ya..^^
senengnya..
mba des, ini mba des yang ada di FB itu kah??
lha ya iya Dik, yang mana lg???^^
oo….
hehehehe…dadi isin kulo karo panjenengan…^_^
isin apa to Dik??? gak ngerti aku…
gimana hasil putranya mbak, smg membanggakan..btw kita memang sering lupa karena rutinitas dunia…thanks mbak, info seperti ini yang aku suka selalu terselip pesan untuk mengingat kita kepada Allah SWT..
belum tau Ummu, belum raportan^^
Sama2, kita saling mengingatkan…
insyaAllah kita bisa seperti lelaki itu ya mbak ^^ amiennn,,
btw sugeng holiday ya mbak terima kasih sudah berkunjung di blog saya^^
Saya salut sama mbak des yang tetap mensyukuri penyakit yg diderita oleh anak mbak sebagai anugrah ^^… SubahaAllah… *ibu yang luar biasa*
Insya Allah. Amiin.
sama2, makasih juga..
Dik Cempaka juga luar biasa dengan semangatnya …^^
time for holiday ya mbak..
saya jg sedang ujian mbk, ujian hidup
“manajemen qalbu” :D
pertamax berkunjung…
salam kenal dulu,
Bolehngeblog
salam kenal juga, terima kasih sudah mampir
mas ganteng pasti senang sekali punya ibunda seperti mbak desi
Semua anak pasti senang dengan ibunya Mbak Fety^^, udah fitrohnya
Anak2 Mbak Fety juga pasti seneng sama ibunya…
mungkin seperti ini ya perasaan ibuku dulu ketika saya sekolah………
salam kenal ^^
salam kena kembali^^
Subhanallah…
salah satu contoh dan tauladan dari 3 generasi terbaik
semoga kita bisa mencontoh mereka..
Gimana hasil ujian Mas Ganteng nya ?
Semoga memuaskan ya…
Ibu teladan nih..
belum tau Mbak Wulan, amiin.
Aduh masih jauh dari kriteria ibu teladan…..hanya sedang berusaha memberikan yang terbaik saja^^
aminn.. semoga bisa seperti lelaki itu.. *berusaha & terus berbenah diri..
Amiin
nisa juga UAS mulai senin besuk.. deg deg.. lum siap materi.. tugas2 juga pada belum selesai.. bismillah.. semangaat!
smg sukses Dik…
ma’an najah ya dek ganteng
^^
mao dong dree kenalan ama yg ganteng….. wkwkwkwk kena timpuk mamanya dah…. hehehe
dree juga lagi belajar intropeksi neh mbak….
suskes jadi mama yg baik yah mbak….
boleh2..ngapain nimpuk orang secantik Dree, eman^^
Makasih doanya Dree…
Numpang lewat…
saya juga lagi UAS ney mbak,,mohon doanya..
http://Meidhyandarestablogme.wordpress.com
Semoga sukses^^