Tampilan yang “chic” dan penuh daya tarik dari sebuah toko ternyata
tidaklah selalu berarti bahwa barang-barang yang dijualnya terjamin “baru”.
Kemarin siang (12/5) seusai menjemput anak-anak dari sekolah saya mampir di sebuah minimarket yang memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia. Minimarket ini baru saja dibuka dua minggu yang lalu, sehingga tidak salahlah bila saya berpikir kalau barang-barangnya pasti masih “baru” juga.
Saya menuju ke rak makanan, hendak membeli sebungkus kue bakpia, bermerk Kim Sen Pia. Kue tersebut dibungkus dengan plastik mika tembus pandang sehingga sulit bagi saya untuk membaca komposisi kuenya di bagian atas bungkus. Saya ambil satu, saya dekatkan ke kacamata supaya dapat melihat lebih jelas. Eh, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sesuatu berwarna putih-putih di beberapa bagian kue pia itu. “Apa ya ini, perasaan kue pia nggak seperti ini deh..,” batin saya berkata. Penasaran, saya dekatkan lagi kue itu ke mata saya (aih minus berapa sih, kok masih kurang dekat saja ya?).
Jiwa detektif saya mulai meggeliat. Dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya saya telah menemukan jawabannya. Ternyata putih-putih tadi itu adalah JAMUR . Yap benar, JAMUR yang menandakan bahwa kue tersebut sudah kadaluwarsa.
Segera saya tunjukkan temuan saya itu ke pramuniaga. Saya pikir embak-embak tersebut akan terkejut dengan ” prestasi” saya. Tidak tahunya, reaksi mereka sangat biasa-biasa saja. Dia hanya mengamat-amati benda bermasalah itu, kemudian membalik bungkusannya dan membaca tahun kadaluwarsanya : 2008! Lalu menyimpannya tanpa bicara sepatah katapun.
Malah saya yang jadi terkenyut, eh terkejut. Lho kadaluwarsanya sudah 2 tahun yang lalu, lha kok bisa lolos seleksi dan nongkrong dengan nyamannya di rak makanan sebuah toko yang baru buka 2 minggu lalu ? Apa kata dunia ????
Apa jadinya kalau yang beli adalah orang tua yang matanya sudah rabun atau anak muda yang suka asal comot saja lalu memakan kue tersebut, lalu keracunan ? Kasihan sekali kan?
Terlepas dari sikap pramuniaga yang sepertinya menganggap hal itu bukan masalah besar sehingga merasa tidak perlu meminta maaf kepada konsumen, saya sangat menyayangkan temuan itu.
Masih saja ada penjual produk/jasa yang nakal yang berusaha menipu konsumen dengan menjual produk-produk yang tidak layak jual. Saya temukan langsung tidak hanya pada penjual di toko, tapi juga pada pedagang sayur, buah dan daging di pasar. Mereka lihai mengamati kelengahan pembeli, kemudian secara cerdik (tepatnya: licik) mencampur dagangannya yang fresh dengan yang sudah “basi”. Beberapa kali saya ditipu seperti itu dalam keadaan saya sadar namun pura-pura tidak tahu.
Sesungguhnya saya kasihan dengan mereka. Saya cuma rugi uang, paling beberapa ribu saja dan nanti toh uang bisa dicari lagi (baca: minta suami lagi,^^). Tapi dia, sang penjual rugi besaaar sekali. Karena dia telah menukar keindahan surga dengan ancaman neraka yang tidak membuat betah penghuninya. Kalau dia jujur, maka kejujurannya itu tentu akan mengantarkan dia kepada amalan surga. Sedangkan ketika ia berdusta, sesungguhnya ia telah merusak amalnya sendiri. Tidak hanya itu, kepercayaan pembeli kepada dirinya pun akan berkurang dan bisa jadi pembeli akan beralih ke pedagang yang lain. Rejeki dari hasil menipu? Jelas haramnya kan? Sia-sia sekali, padahal ia telah berpayah-payah mengais rejeki dari pagi hingga petang…..
Bagi para konsumen, anda mesti lebih berhati-hati lagi. Setiap membeli produk, jangan lupa mengamati expired date-nya. Jangan terkecoh dengan kemegahan sebuah toko/mall. Bahaya mengancam anda bila mengkonsumsi makanan kadaluwarsa.
Berikut ini saya nukilkan tulisan Faik Fauzi tentang bahaya makanan kadaluwarsa (http://faikshare.blogspot.com/2010/03/maut-dalam-makanan-kadaluwarsa.html)
Jangan anggap remeh makanan yang sudah kadaluwarsa. Sebab, makanan yang kadaluwarsa merupakan salah satu penyebab utama terjadinya keracunan.
Sebagai konsumen kita harus selalu teliti sebelum membeli. Kerusakan pangan dapat menyebabkan keracunan bagi konsumennya. Selain membuat konsumen pusing, mual, diare, sesak napas, dan kematian akibat keracunan, mengonsumsi dalam waktu yang lama makanan yang sudah kadaluwarsa dapat menyebabkan kanker.
Berikut ini akan diuraikan kerusakan dan bahaya yang dapat terjadi pada produk makanan dan berpotensi keracunan.
Produk Serealia
Produk-produk serealia yang rusak (tidak layak dan tidak aman) umumnya ditandai oleh perubahan warna dan tumbuhnya serangga (kutu). Perubahan warna yang terjadi pada serealia mungkin disebabkan terjadinya oksidasi terhadap lemak, khususnya terhadap asam lemak tidak jenuh. Hal tersebut akan didukung oleh munculnya aroma tengik pada bahan.
Bahan pangan dari serealia yang telah mengalami oksidasi lemak mungkin akan mengandung peroksida atau turunannya berupa aldehid dan keton. Senyawa-senyawa tersebut apabila dikonsumsi dalam jumlah besar dan terus-menerus dapat mengakibatkan kanker.
Kacang-kacangan
Produk kacang-kacangan dikatakan rusak apabila telah ditumbuhi kapang. Pertumbuhan kapang pada produk kacang-kacangan dimungkinkan karena kapang masih dapat tumbuh pada bahan berkadar air rendah. Kapang yang tumbuh pada kacang-kacangan dapat memproduksi mikotoksin, misalnya Aspergillus flavus pada kacang tanah yang menghasilkan racun aflatoksin. Mikotoksin juga diduga kuat bersifat karsinogenik (penyebab kanker) terhadap hati dan bersifat kumulatif dalam jaringan lemak tubuh. Hal ini berarti bahwa mikotoksin tidak dapat dihancurkan di dalam tubuh.
Akumulasi mikotoksin dalam suatu bahan pangan juga akan berdampak pada akumulasi mikotoksin pada bahan lain. Contohnya, sapi yang diberi pakan kacang-kacangan yang mengandung aflatoksin, akan memproduksi susu yang juga mengandung aflatoksin.
Mikotoksin merupakan senyawa yang sangat berbahaya dan keberadaannya tidak dapat dideteksi secara visual. Mikotoksin dapat saja terkandung dalam kacang-kacangan, sekalipun kapang yang menumbuhinya telah dibersihkan. Oleh karena itu, jangan mengonsumsi kacang-kacangan yang telah ditumbuhi kapang walaupun dalam jumlah sedikit.
Produk Susu
Kerusakan produk susu masih dapat dideteksi dengan pemantauan visual. Produk susu segar (umumnya dikemas plastik atau karton), apabila kadaluwarsa, akan menimbulkan aroma yang agak masam.
Untuk susu segar yang dikemas plastik, akan terlihat adanya pemisahan emulsi dan perubahan warna. Lemak susu akan mengapung, terdapat gumpalan-gumpalan protein, dan akan terlihat pemisahan air. Susu kadaluwarsa sering juga disebut sebagai susu basi yang ditandai oleh kenaikan viskositas (kekentalan) susu.
Secara fisik, kemasan susu juga akan tampak kembung karena diproduksinya gas oleh mikroba-mikroba patogen sebagai hasil samping fermentasi. Fermentasi yang terjadi pada susu segar bukanlah reaksi yang menguntungkan, melainkan akan menyebabkan rasa dan aroma masam yang dapat menyebabkan diare. Mikroba yang mungkin merusak susu adalah Escherichia coli, Streptococcus, dan Staphylococcus.
Produk dalam Kaleng
Kerusakan produk dalam kaleng memang sukar terlihat, tetapi dapat terdeteksi dengan adanya kerusakan pada badan kaleng itu sendiri. Penyimpangan pada kaleng misalnya adalah berkarat. Kaleng yang berkarat dapat menandakan waktu penyimpanan yang lama, selain itu kondisi penyimpanannya juga mungkin tidak sesuai, misalnya udara yang terlalu lembab.
Kaleng yang berkarat pada bagian luarnya mungkin juga telah berkarat pada bagian dalamnya. Karat atau biasa disebut korosi merupakan reaksi oksidasi besi (Fe) yang melepaskan besi oksida (FeO2). Besi oksida dapat bereaksi dengan bahan yang dikemas dalam kaleng. Reaksi umumnya menghasilkan perubahan warna pada pangan.
Jika pangan termasuk berasam tinggi atau mengandung belerang (sulfida), perubahan warnanya akan mengarah kehitaman karena terbentuk besi sulfida (FeS). Perubahan lain yang terjadi akibat reaksi besi oksida dengan pangan adalah perubahan aroma dan kekentalan. Aroma pangan akan berubah menjadi aroma busuk dan agak berbau besi.
Kaleng yang gembung mengandung potensi bahaya mikrobiologis. Umumnya disebabkan oleh kurang sempurnanya proses exhausting (proses penghampaan), penyegelan, dan sterilisasi. Hal ini berarti terdapat udara di dalam kaleng dan kondisi kaleng tidak vakum.
Udara yang terdapat di dalam kaleng kemungkinan masih mengandung mikroba yang dapat mengontaminasi pangan karena bersifat patogen. Udara tersebut juga dapat menyebabkan perkaratan kaleng dari bagian dalam. Kevakuman kaleng sangat berpengaruh terhadap sterilitasnya. Sterilitas berkaitan langsung dengan umur simpan.
Kevakuman kaleng menandakan kondisi hampa udara pada bagian dalam kaleng. Hampa udara artinya tekanan udara dalam kaleng amat rendah. Jika terjadi benturan yang menyebabkan kaleng penyok, kemungkinan kaleng tersebut mengandung bahaya mikrobiologis. Bahaya dapat terjadi apabila penyok membentuk lekukan bersudut dalam.
Kaleng merupakan bahan yang tidak fleksibel. Oleh karena itu, lekukan dapat menyebabkan retakan atau lubang kecil. Lubang atau retakan tersebut merupakan jalan masuk yang sangat baik bagi udara serta mikroba patogen dan pembusuk.
Udara dan mikroba mudah masuk karena tekanan udara di luar kaleng lebih tinggi daripada tekanan udara di dalam kaleng. Udara yang masuk dapat menyebabkan korosi dan mikroba (seperti Eschericia coli, Staphylococcus aureus) dapat menyebabkan kebusukan dan penurunan mutu pangan.
Penyok pada bagian luar kaleng juga dapat menyebabkan keretakan pada enamel. Keutuhan enamel sangat penting karena enamel merupakan bahan pelapis pada bagian dalam kaleng yang menghambat reaksi kaleng dengan bahan pangan. Apabila enamel retak atau terkelupas, reaksi antara kaleng dan bahan pangan dapat terjadi. Reaksi tersebut juga dapat menimbulkan korosi kaleng.
Produk Pangan Beku
Produk pangan beku merupakan produk yang memiliki umur simpan tinggi apabila diberi perlakuan penyimpanan yang benar. Penyimpanan terbaik harus dilakukan dalam freezer bersuhu -20° C (20° C di bawah nol). Namun, dalam kenyataan sehari-hari di rumah tangga, freezer yang ada hanya bersuhu -5° hingga 0° C. Hal inilah yang melatarbelakangi dicantumkannya beberapa tanggal kadaluwarsa pada produk pangan beku menurut suhu penyimpanannya.
Produk pangan beku juga merupakan produk yang memiliki potensi bahaya mikrobiologi yang rendah. Hal ini disebabkan sebagian besar mikroba inaktif pada suhu beku. Dalam penggunaan produk beku, terdapat anjuran untuk tidak terlalu sering membekukan dan thawing (pelunakan produk beku). Apabila produk tidak akan dimasak seluruhnya, sebaiknya hanya sebagian saja yang dikeluarkan dari freezer. Apabila produk sudah terekspos dengan udara dan tidak segera dimasak, kualitasnya dikhawatirkan akan menurun, serangan berbagai mikroba juga akan terjadi.
Produk Pasta dan Saus
Produk-produk pasta dan saus umumnya memiliki umur simpan yang tinggi. Sebab, walaupun memiliki kadar air tinggi, aktivitas airnya rendah. Hal ini yang menyebabkan sedikitnya jenis bakteri yang mampu menyerang produk-produk pasta dan saus. Meskipun demikian, masih ada golongan mikroba yang dapat menyerang, seperti kapang dan kamir. Peluang serangan kapang lebih besar daripada khamir. Serangan kapang, seperti telah dijelaskan pada bagian serealia dan kacang-kacangan, dapat menyebabkan tumbuhnya mikotoksin yang berpotensi menimbulkan kanker apabila dikonsumsi secara terus-menerus.
Produk Pangan Kering
Produk pangan kering sebagian besar memiliki kadar air yang rendah sehingga lebih tahan terhadap serangan bakteri, terlebih apabila pengemasan dan penyimpanannya baik. Potensi kerusakan terjadi terutama pada produk kering yang disimpan terlalu lama. Selain timbul bau tengik akibat oksidasi lemak, produk juga akan menjadi lunak karena peningkatan kadar air. Dalam keadaan demikian produk akan mudah ditumbuhi kapang.
Untuk mecegah penurunan mutu setelah kemasan dibuka, sebaiknya produk-produk kering disimpan dalam wadah kedap udara sehingga terhindar dari kontak dengan uap air dan udara. Jumlah yang disimpan sebaiknya tidak berlebihan untuk memperkecil peluang penyimpanan yang terlalu lama.
Demikian saja sahabat, semoga bermanfaat dan….selamat berbelanja!
pic: lettertotheworld, lifehack.org



waduh mengerikan sekali ya umm..
koq bisa sih? seharusnya kan ada seleksi disana
masa supermarket bisa kecolongan barang2 kadaluwarsa
apa memang sengaja?
kalau tidak sengaja harusnya pihak supermarket meminta maaf dan menjelaskannya kepada konsumen bahwa itu murni kesalahan bukan kesengajaan
harus hati2 ni kalo belanja ^^
nice info umm
jazakillahu khairan ya
salam
bener ,ati2 wae atuh bilih nuju balanja…sok aya nu teu jujur pedagang teh…(atanapi teu sangaja..)
waiyakum..
Waspadai juga yang beli satu gratis satu, biasanya tanggal EDnya nggak lama lagi :)
wah info berharga dari Mbak Akin, makasih banyak…
ini yg kadang kita lupa…
klu udah butuh en suka langsung sambar aja lupa cek…
Alhamdulillah…jd teringat klu beli sesuatu…
syukron
sama2
Kehati-hatian kita untuk memilih suatu produk terutama tanggal kedaluarsanya mutlak diperlukan. Salah2 kita bisa jadi korban keracunan apabila tidak jeli memperhatikan hal tsb
betul sekali Pak
tak dipasar tradisional yang memang stoknya itu2 saja ternyata di market
modern pun sama saja ya…, duh…memang bangsa ini lebih tertarik
cari banyak untung dengan cara2 ‘licik’ ketimbang untung sedikit
dengan membawa keberkahan, padahal sudah untung…
wah info yang ditulis biru tuh, lengkap dan bermanfaat sekali :)
semoga tidak semua pedagang seperti itu ya Dik…
Alhamdulillah bila memang bermanfaat